Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pemilu Pada Dasarnya Adalah Transaksi

Setiap pemilihan umum adalah penjualan harapan di masa depan dengan harga kepercayaan saat ini. Begitulah kira-kira kalimat yang disampaikan oleh Ambrose Bierce. Kita menyerahkan sesuatu yang nyata hari ini, kepercayaan, suara, harapan, kepada seseorang yang menawarkan sesuatu yang belum tentu pernah ada. Janji tentang masa depan yang lebih baik, tentang perubahan sudah lama ditunggu, tentang pemimpin yang kali ini benar-benar berbeda.


Sumber gambar: Wikipedia

Bierce menyindir proses pemilu sebagai transaksi yang tidak adil dan penuh risiko bagi si pembeli (pemilih). Mengapa?

  • Janji vs. Realita: Penjual (kandidat) sangat mudah menjual "harapan" yang muluk, karena masa depan belum terjadi dan tidak ada garansi. Mereka bisa berjanji apa saja, bahkan hal yang mustahil.

  • Pembayaran di Muka: Pembeli (pemilih) harus membayar "kepercayaan" mereka sekarang juga dengan memberikan suara. Setelah suara diberikan, pembeli kehilangan kekuatan untuk memastikan janji itu benar-benar ditepati.

  • Tidak Ada Pengembalian Dana: Jika sang penjual, setelah terpilih, ingkar janji atau tidak mewujudkan harapan tersebut, para pemilih tidak bisa "mengembalikan barang" dan mendapatkan kembali kepercayaan mereka yang sudah terlanjur diberikan. Mereka harus menunggu 5 tahun (atau sesuai periode jabatan) untuk pemilu berikutnya.

Dan yang membuat transaksi ini unik adalah tidak ada jaminannya. Di pasar biasa, kamu bayar, kamu dapat barang. Kalau barangnya rusak, kamu bisa komplain, minta ganti, atau tidak beli lagi dari penjual yang sama. Tapi dalam pemilu, setelah kepercayaan itu diserahkan, sangat sulit untuk mengambilnya kembali. Lima tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk melupakan janji, cukup panjang untuk menciptakan alasan, dan cukup panjang untuk mempersiapkan janji baru yang terdengar lebih segar.

Yang dijual bukan program atau kebijakan, yang dijual adalah perasaan. Perasaan bahwa kali ini akan berbeda. Perasaan bahwa suaramu punya makna. Perasaan bahwa ada seseorang di luar sana yang benar-benar mengerti apa yang kamu rasakan. Dan perasaan itu, betapapun tipisnya, selalu cukup untuk membuat antrian panjang di depan tempat pemungutan suara.

Bukan karena rakyatnya mudah ditipu tapi karena harapan adalah kebutuhan manusia yang sulit dipadamkan, bahkan oleh pengalaman yang sudah berulang kali mengecewakan.

Post a Comment for "Pemilu Pada Dasarnya Adalah Transaksi"