Pemilu Pada Dasarnya Adalah Transaksi
Setiap pemilihan umum adalah penjualan harapan di masa depan dengan harga kepercayaan saat ini. Begitulah kira-kira kalimat yang disampaikan oleh Ambrose Bierce. Kita menyerahkan sesuatu yang nyata hari ini, kepercayaan, suara, harapan, kepada seseorang yang menawarkan sesuatu yang belum tentu pernah ada. Janji tentang masa depan yang lebih baik, tentang perubahan sudah lama ditunggu, tentang pemimpin yang kali ini benar-benar berbeda.
Bierce menyindir proses pemilu sebagai transaksi yang tidak adil dan penuh risiko bagi si pembeli (pemilih). Mengapa?
Janji vs. Realita: Penjual (kandidat) sangat mudah menjual "harapan" yang muluk, karena masa depan belum terjadi dan tidak ada garansi. Mereka bisa berjanji apa saja, bahkan hal yang mustahil.
Pembayaran di Muka: Pembeli (pemilih) harus membayar "kepercayaan" mereka sekarang juga dengan memberikan suara. Setelah suara diberikan, pembeli kehilangan kekuatan untuk memastikan janji itu benar-benar ditepati.
Tidak Ada Pengembalian Dana: Jika sang penjual, setelah terpilih, ingkar janji atau tidak mewujudkan harapan tersebut, para pemilih tidak bisa "mengembalikan barang" dan mendapatkan kembali kepercayaan mereka yang sudah terlanjur diberikan. Mereka harus menunggu 5 tahun (atau sesuai periode jabatan) untuk pemilu berikutnya.
Post a Comment for "Pemilu Pada Dasarnya Adalah Transaksi"
Berikan komentar Anda dan bagikan ke teman" Anda!